“Belok kiri atau kanan?” Tanya suami saya
“Kiri…” Jawab saya yakin
Ketika hendak belok,
saya stop, “Bukan ke situ, ke sana (menunjuk arah sebaliknya)”
“Itu kanaannn sayaangggg”
geram suami saya
“Iya maksudnya kanan” Saya
cuma nyengir seperti biasa. Dan suami saya cuma geleng-geleng kepala, seperti
biasa.
Sejak awal kenal, sampai
menikah kejadian ini sering banget dialami. Kekinian, gak pernah lagi. Karena suami
saya tidak pernah lagi menanyakan arah “Kiri atau kanan”, biasanya dia lebih
menunjuk dengan jari, ke arah ini atau sebaliknya.
Selain suami, yang sering jadi 'korban' salah navigasi dari saya adalah, abang ojek. Maksud hati suruh belok ke kanan, eh bilangnya "ke kiri, Pak...".
Bukan perkara sepele,
karena gak jarang salahnya penunjuk arah yang saya ucapkan berbahaya ketika di
perjalanan. Kebayang kan, ketika nyetir, maksudnya disuruh belok kiri ternyata
kanan, harus rem mendadak dan banting setir dadakan juga. Ngeri banget.
Ada apa dengan saya?
Sejak kecil ternyata
saya mengidap left–right discrimination (LRD), salah satu kondisi tidak
bisa membedakan kiri dan kanan dengan respond cepat. Saya sulit menentukan arah
ketika ditanya dadakan atau diarahkan. Maksud di otak saya ke arah kiri, tapi ucapan
spontan yang keluar dari mulut saya bisa benar, bisa juga sebaliknya.
Apakah ini berbahaya?
Berbahaya ketika jadi navigator
atau petunjuk arah buat orang lain. Selain hal buruk seperti kecelakaan, bisa
juga menyesatkan.
Setelah saya baca dan
cari tahu secara medis, kelainan ini dikenal dengan istilah left–right
discrimination (LRD), kesulitan untuk menentukan arah kiri dan kanan. Hal
ini terjadi karena adanya
hambatan pada kompleks neuropsychologic process yang bekerja untuk me-recall
kemampuan fungsi yang lebih tinggi termasuk visuopasial, memori, bahasa, dan
integrasi informasi sensori.
Dan ternyata, ada beberapa orang yang mengalami
kelainan ini. Terutama paling banyak terjadi pada perempuan.
Saya sendiri bukan tidak tahu mana yang kiri
dan mana arah kanan. Hanya kesulitan ketika harus menentukan sebuah gerakan atau
menunjuk arah. Ada paksaan dua kali kerja otak yang lebih keras untuk
berkonsentasi dan memutuskan ini arah kiri atau kanan.
Belum tahu bagaimana cara melatihnya, karena
ketika fokus dan konsentrasi saya juga bisa menyebut arah dengan baik dan
benar.
Hal paling menyulitkan buat saya pribadi adalah,
ketika harus membawa kendaraan sendiri. Mungkin ketika jalan di jalan lurus dan harus berbelok kanan atau kiri sih gak bingung, karena masih bisa mengandalkan feeling. Tapi ini terasa sulit ketika di tempat umum dan saya
harus parkir, apalagi mundur. Antara sinkronisasi otak dan gerakan tangan saya
mengendalikan setir selalu berlawanan. Dan kadang stress sendiri, karena salah arah.
Paling sulit lagi ketika diarahkan juru parkir yang teriak “kiri, kanan, balas kiri, balas kanan…” saya harus konsentrasi penuh
dan tiga kali lebih banyak memaksa otak untuk mengsinkronkan antara mendengar suara abang parkir, menggerakan setir, dan memahami ini maksudnya ke kiri atau kanan
ya.
Iya, sesusah itu. Ada yang pernah mengalami hal
ini? Atau mungkin punya teman dan kenalan yang punya gangguan seperti ini?
Notes : Bisa baca-baca beberapa
pengertian left–right
discrimination (LRD) dan metode yang bisa digunakan untuk membantu
diagnosa kelainan ini :
3 Comments
Eh kaya temenku mbak. Kl ditanya belok kanan atau kiri. Jwabnya kiri tp yg dimkasud kanan. Wkwkwk
BalasHapusKl aku nggak ngerti arah mata angin, buta peta bgt. Tp kl buat nentuin kanan kiri bisa. Hihi
Aku kok dua-duanyaaa, kanan kiri susah, mata angin juga ga paham, ga bica baca peta. Waakk combo banget inii hahahaa
Hapusahahah, nggak papa. Yang penting nggak susah menentukan pasangan kan mbak, hhh
HapusSilahkan tinggalkan pesan di sini: